Mahdhah & Ghairu Mahdhah

Apa itu Mahdhah dan Ghairu Mahdhah?

Mahdhah

Ibadah Mahdhah adalah ibadah yang murni ibadah, jadi semata-mata tujuannya untuk cari pahala, yakni beribadah kepada Allaah subhanahu wa ta’ala. Contoh : Shalat, puasa, shalawat, haji dll..

Ghairu Mahdhah

Ibadah Ghairu Mahdhah adalah

ibadah yang tidak murni ibadah. Satu sisi ibadah ini bisa bernilai ibadah (ada pahalanya) jika diniatkan karena Allah, dan bisa tidak bernilai ibadah jika hanya berniat untuk dunia. Contoh :

√ Bekerja untuk mencari nafkah

√ Tersenyum dengan orang lain

√ Tolong menolong sesama

√ Menafkahkan harta di jalan Allah

√ Membangun sekolahan, madrasah, jembatan, dll…

√ Dan masih banyak contoh lainnya..

Untuk ibadah Mahdhah sendiri. Para ulama Para ulama menjelaskan bahwa ibadah mahdhoh jika dikerjakan tanpa tuntunan (tanpa adanya tuntunan dari Rasulullah dan para sahabat) Maka ini adalah amalan yang sia-sia…

Contoh :

Seperti shalat yang dirubah dan ditambah-tambahi tatacaranya, semisal ditambah pelafalan niat shalat. Demikian juga shalat yang tak ada asalnya dari Islam, semisal shalat 100 rakaat dimalam nisfu sya’ban, shalat hadiyah, shalat raghaib, dan shalat-shalat lain yang tak ada asalnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam..

Pun juga dengan mengamalkan puasa-puasa yang bukan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, semisal puasa nisfu sya’ban, ngebleng, mutih, pati geni, dll..

Dan juga dengan shalawat-shalawat yang tidak berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, semisal habsy, nariyah, hajjiyah, burdah, dll..

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Jadi dalam suatu ibadah harus ada tuntunan dari Rasulullah dan jika tidak ada maka tidak usah dijalani.

Kalau ibadah Ghairu Mahdhah sendiri yaitu baru dikatakan ibadah dan berpahala jika diniatkan untuk ibadah, semisal mencari nafkah untuk hidupi keluarga diniatkan karena Allah, karena Allah memang memerintahkan agar menafkahi keluarga.

Jika diniatkan untuk mencari kerja saja karena untuk sekedar memenuhi kebutuhan, atau sekedar mengumpulkan harta, maka ini tidak bernilai pahala. Jadi amalan ini asalnya mubah. Jika diniatkan karena Allah baru bernilai pahala.

Tapi harus kita diperhatikan bahwa ibadah ghoiru mahdhoh ini jika dijadikan sebagai ibadah murni, maka bisa terjatuh dalam perkara yang mengada-ngada dalam agama (red: bid’ah), misalnya dikhususkan dengan cara dan dikerjakan pada waktu tertentu.

Contoh

Ziarah kubur

Ziarah kubur sebelum masuk ramadhan..

Seperti yang ada pada hadits Rasulullah. Ziarah kubur asalnya boleh kapan saja. Namun jika dikhususkan pada waktu tertentu semacam ini, bahkan sampai dianggap memiliki keutamaan didalamnya, maka hal ini jelas mengada-ada.

Jabat tangan stelah shalat.

Menjabat tangan setelah shalat

Jabat tangannya asalnya boleh kapan saja, bahkan jabat tangan dapat menggugurkan dosa. Namun jika jabat tangan dikhususkan ketika selesai shalat, apalagi pengkhususan tersebut sampai dianggapnya mempunyai keutamaan, bahkan dianggap sebagai sunnah, maka ini yang mengada-ada.. Jadi tidak bisa dikatakan mubah..

Jadi.. Harus dibedakan dua ibadah ini..

Semoga Allah beri kepahaman.. Semoga Allah beri taufik.

Lihat link lain https://muslim.or.id/46004-perbedaan-antara-ibadah-mahdhah-dan-ibadah-ghairu-mahdhah-bag-1.html

Lihat artikel saya yang lain di http://annisahamidah.web.id/

  • Leave a Reply